KELENTENG SAMBONG YAYA BERUMUR RATUSAN TAHUN BERULANG TAHUN

Kelenteng Sambong YaYa berada di desa Jeruk, Pangkalan Baru, Kabupaten Bangka Tengah, berulang tahun 3 April 2024 untuk penanggalan Nasional, Jika diambil dari penanggalan Cina (Imlek 2575) tanggal 25 Bulan Kedua.

Harapan dari ulang tahun Kelenteng Sambong YAYA kepada Masyarakat Desa Jeruk, semoga Desa Jeruk Maju dan Mandiri, Damai, Sehat , selalu diberikan kelimpahan rezeki dan keselamatan, dijauhkan dari mara bahaya . Hadir dalam perayaan tersebut Kepala Desa Jeruk Jhon Hendri, S.E., M.M. , BPD (Afie dan Brigita) dan Perangkat Desa Jeruk (Falentina, Mei Jing, Pit Kiung, Men Kie) Ketua RT Liska Sari (RT.06) dan Linmas (Tommy dan Martin), disambut oleh Ketua Kelenteng Sambong YAYA yaitu Pak Bong Sin Sen dan Tokoh masyarakat Guru Hian (92 Tahun), Pengurus ( Amui dan Men Ing)

foto bersama Pengurus Kelenteng, Kepala Desa Jeruk, Perangkat desa dan BPD Jeruk, saat Ulang Tahun Kelenteng yang sudah berumur Ratusan Tahun

Kelenteng atau klenteng (bahasa Hokkian: 廟, bio) adalah sebutan untuk tempat ibadah penganut kepercayaan tradisional Tionghoa. Dikarenakan di Indonesia, penganut kepercayaan tradisional Tionghoa sering disalahartikan sebagai penganut agama Konghucu. Padahal keduanya hal yang sama sekali berbeda, bahkan di masa awal gagasan Kang Youwei mendirikan agama Konghucu di akhir kekuasaan Dinasti Qing sekira awal abad ke-20, praktik tradisi ini sebagian besar dianggap bertentangan dengan ajarang Konfusius.

Apa yang disebut kelenteng di Indonesia, di seluruh dunia bukanlah tempat ibadah umat Konghucu melainkan tempat ibadah 2 agama yang dari masa Tiongkok klasik hingga saat ini masih eksis di Tiongkok yaitu Agama Buddha dan Agama Tao. Hanya di kedua agama inilah terdapat kosmologi dewata yang khas, dan terdapat Gunung Suci untuk keduanya di Tiongkok. Terdapat 5 agama yang direkognisi di Tiongkok yaitu Buddha, Tao, Kristen, Katolik, dan Islam[1].

Di beberapa daerah, kelenteng juga disebut dengan istilah tokong.[2] Istilah ini diambil dari bunyi suara lonceng yang dibunyikan pada saat menyelenggarakan upacara. Kelenteng adalah istilah “generic” untuk tempat ibadah yang bernuansa arsitektur Tionghoa, dan sebutan ini hanya dikenal di pulau Jawa, tidak dikenal di wilayah lain di Indonesia, sebagai contoh di Sumatra mereka menyebutnya bio; di Sumatra Timur mereka menyebutnya am dan penduduk setempat kadang menyebut pekong atau bio; di Kalimantan di orang Hakka menyebut kelenteng dengan istilah thai Pakkungpakkung miau atau shinmiau. Tapi dengan waktu seiring, istilah ‘kelenteng’ menjadi umum dan mulai meluas penggunaannya.[3]

Kelenteng bagi masyarakat Tionghoa tidak hanya berarti sebagai tempat ibadah saja. Selain Gong-guan (Kongkuan), kelenteng mempunyai peran yang sangat besar dalam kehidupan komunitas Tionghoa dimasa lampau.[4]

Asal mula kata kelenteng

Kelenteng dibangun pertama kali pada tahun 1650 oleh Letnan Kwee Hoen dan dinamakan Kwan Im Teng 觀音亭. Kelenteng ini dipersembahkan kepada Kwan Im(觀音dewi pewelas asih atau Avalokitesvara bodhisatva Dari kata Kwan Im Teng inilah orang Indonesia akhirnya lebih mengenal kata Kelenteng daripada Wihara, yang kemudian melafalkannya sebagai Kelenteng hingga saat ini. Kelenteng juga disebut sebagai bio yang merupakan dialek Hokkian dari karakter 廟 (miao). Ini adalah sebutan umum bagi Kelenteng di Republik Rakyat Tiongkok.Hal ini menunjukkan warna keagamaan komunitas Tionghoa di masa Hindia Belanda adalah beragama Buddha yang telah mengalami akulturasi dengan budaya Tionghoa atau sederhananya dapat disebut Agama Buddha Tionghoa atau Chinese Buddhism.

Buktinya adalah tempat-tempat ibadah paling tua di Nusantara, yang saat ini mencakup hampir seluruh Asia Tenggara, adalah diperuntukkan untuk menghormati Bodhisatwa Avalokitesvara (Sansekerta) yang diterjemahkan Kwan Se Im Pu Sa (Mandarin), dan Dewi Welas Asih (Indonesia).

Pada mulanya, kelenteng adalah tempat penghormatan pada leluhur 祠 “Ci” (rumah abuh) atau dewa, masing-masing marga membuat “Ci” untuk menghormati para leluhur mereka sebagai rumah abuh. Para dewa-dewi yang dihormati tentunya berasal dari suatu marga tertentu yang pada awalnya dihormati oleh marga mereka. Seiring perkembangan zaman, penghormatan kepada dewa-dewi yang kemudian dibuatkan ruangan khusus yang dikenal sebagai kelenteng yang dapat dihormati oleh berbagai macam marga, suku. Di dalam kelenteng bisa ditemukan (bagian samping atau belakang) dikhususkan untuk abuh leluhur yang masih tetap dihormati oleh para sanak keluarga masing-masing. Ada pula di dalam kelenteng disediakan tempat untuk mempelajari ajaran-ajaran atau agama leluhur seperti ajaran-ajaran KonghucuTaoisme, dan bahkan ada pula yang mempelajari ajaran Buddha. kelenteng selain sebagai tempat penghormatan para leluhur, para dewa-dewi, dan tempat mempelajari berbagai ajaran, juga digunakan sebagai tempat yang damai untuk semua golongan tidak memandang dari suku dan agama apapun.

( sumber wikipedia)


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *